Orangtua pasti khawatir apabila anak kita sangat aktif, sulit diatur, keras kepala, galak atau nakal sekali. Berbagai cara dilakukan agar anak tersebut bisa menjadi ‘lebih baik’. Benarkah anak kita termasuk hiperaktif ? bagaimana tanda-tanda anak hiperaktif tersebut ? dan bagaimana mengatasi anak hiperaktif ?
Pengertian Hiperaktif
Dalam Psikologi terdapat apa yang namanya anak penderita Attention deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). ADHD didefinisikan sebagai anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian, tidak dapat menerima impuls-impuls dengan baik, suka melakukan gerakan-gerakan yang tidak terkontrol, dan menjadi lebih hiperaktif.
Para pakar psikologi memberikan beberapa pengertian dari hiperaktif, diantaranya :
Erick Taylor : “hiperaktif dinyatakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjuk-kan sikap tidak mandiri, tidak menaruh perhatian, dan impulsif “.
James Dobson dalam bukunya “Kendalikan Selagi Mampu” merumuskan pengertian anak hiperaktif (disebut juga hiperkinensis, kelainan kecil pada otak, kelainan impuls, dan sedikitnya ada tiga puluh istilah lainnya) didefinisikan sebagai gerakan yang berlebihan dan tidak terkendali.
Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya “Mengatasi problem anak sehari-hari“ mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
Penyebab Anak Hiperaktif
Belum ada yang memastikan apa penyebab dari hiperaktif, bisa factor genetic, lingkungan atau gangguan secara medis. Makanan yang mengandung pengawet dan pewarna buatan juga disinyalir sebagai biang keladinya. Beberapa pengaruh dari luar dirinya seperti pengaruh keluarga, lingkungan dan sekolah juga bisa memperburuk keadaan anak.
Mengatasi anak Hiperaktif
Karena penyebabnya memiliki kemungkinan sangat banyak, maka penanganannyapun harus lebih hati-hati. Semakin cepat ditangani akan semakin baik. Beberapa metode yang bisa dilakukan orangtua adalah : Metode Bercerita, Metode pekerjaan tangan, metode bermain, dsb.
Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua pada anak hiperaktif :
1. Ke dokter agar diberi obat tertentu untuk mengurangi hiperaktivitas.
2. Pendisiplinan tingkah laku di rumah dan sekolah.
3. Anak diikutsertakan kegiatan fisik terutama yang bersifat kompetetif seperti berenang, olahraga bela diri, aerobiks, sepatu roda dan lain-lain.
4. Ketrampilan bergaul, ketrampilan menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5. Orang tua dan anggota keluarga harus memahami gangguan yang terjadi pada di hiperaktif sehingga bisa sama-sama menerima dan melatihnya.
Sekali lagi, penting sekali penangan anak hiperaktif sejak dini, karena "Hiperaktif dan gangguan perhatian bukan suatu gangguan yang dapat "disembuhkan sepenuhnya," ujar dra. Shinto B. Adelar, M.Sc, psikolog anak. Anak-anak hiperaktif bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang berhasil, tapi ada pula yang sebaliknya hal ini terjadi karena tak ditangani sejak dini.
Berdasarkan penelitian ternyata ada hubungan antara anak-anak hiperaktif dengan mereka mereka yang pernah menghuni lembaga pemasyarakatan. Kebanyakan yang tinggal di kawasan itu, masa kecilnya mengalami hiperaktif. Mereka memiliki kenangan yang menyakitkan ketika di sekolah.
Ini akibat mereka tak ditangani sejak dini, mereka tumbuh dan berperilaku
merugikan dirinya maupun orang lain. Karena gangguan ini tak mampu disembuhkan. Orang tua dan pendidik harus berusaha kuat membantu mereka dan perlu dibantu sejak dini sehingga mereka bisa belajar mengatur hidup, mengatasi frustasi dan kelemahan-kelemahannya.
Bimbinglah si hiperaktif ini menemukan keunggulan atau kekuatan sehingga mereka
terlatih menghargai diri pribadi yang memiliki keunikan yaitu kelebihan dan kekurangan. Jika tidak diberikan bantuan, anak akan berulangkali terperangkap pada lingkaran kegagalan, frustasi, rendah diri dan akan membuat dirinya selalu bermasalah.
Incoming Search Tags :pengertian hiperaktif,
mainan anak hiperaktif 2009,
cara mengatasi anak hiperaktif,
mengatasi anak hiperaktif,
tips : mengatasi balita hiperaktif,
mengatasi anak yang aktif,
cemilan buat anak hiperaktif,
cara mengatasi anak yang hiperaktif,
mengatasi batita yang hiperaktif,
Cara menangani Anak aktif,
menangani anak hiperaktif,
definisi hiperaktif,
Orangtua pasti khawatir apabila anak kita sangat aktif, sulit diatur, keras kepala, galak atau nakal sekali. Berbagai cara dilakukan agar anak tersebut bisa menjadi ‘lebih baik’. Benarkah anak kita termasuk hiperaktif ? bagaimana tanda-tanda anak hiperaktif tersebut ? dan bagaimana mengatasi anak hiperaktif ?Labels: hiperaktif, Psikologi, psikologi anak
Indigo adalah istilah baru yang belakangan ini mulai dikenal masyarakat. Saya sendiri ingin tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan anak indigo. Ternyata indigo adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak. Secara harfiah, indigo adalah nama warna antara biru dan ungu, yang kerap pula disebut nila.
Ada beberapa tes sederhana yang saya dapat dari sebuah situs untuk mengetahui atau mendeteksi indigo sejak dini, saya copas aja ya :
Apakah anak anda indigo ?
Untuk mengetahui apakah anak anda atau anda sendiri indigo, jawablah pertanyaan berikut:
1) Apakah anak anda sering bersikap seperti bangsawan? ,
2) Apakah anak anda memiliki perasaan pantas diterima?,
3) Apakah anak anda mempunyai perasaan bahwa dirinya dapat dimengerti? ,
4) Apakah anak anda sulit menghadapi disiplin dan kekuasaan? ,
5) Apakah anak anda menolak untuk mengerjakan hal-hal pasti yang diminta untuk dikerjakan? ,
6) Apakah kegiatan antri tak disukai anak anda?,
7) Apakah anak anda tidak menyukai sistem yang berorientasi ritual/mekanikal dan sedikit memerlukan kreatifitas? ,
8) Apakah anak anda sering dapat mengetahui cara-cara yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu, baik di rumah atau di sekolah? ,
9) Apakah anak anda tidak mudah kompromi? ,
10) Apakah anak anda tidak merespon/takut pada ancaman? ,
11) Apakah anak anda mudah bosan terhadap pekerjaan yang ditugaskan ,
12) Apakah anak anda terlihat mempunyai gejala ADD? ,
13) Apakah anak anda kreatif? ,
14) Apakah anak anda terlihat mempunyai intuisi yang tajam? ,
15) Apakah anak anda mempunyai sikap empati yang menonjol terhadap orang lain? ,
16) Apakah anak anda mempunyai pemikiran yang abstract? ,
17) Apakah anak anda cerdas? ,
18) Apakah anak anda sangat berbakat (yang diidentifikasi sebagai karunia)? ,
19) Apakah anak anda terlihat sebagai pengkhayal? ,
20) Apakah mata anak anda terlihat memancarkan mata orang dewasa, bijak dan dalam? . 21) Apakah anak anda mempunyai kecerdasan spiritual?
Jika anda mempunyai 10 jawaban “Ya”, maka anak anda kemungkinan adalah indigo. Jika jawaban “Ya” lebih dari 15, maka anak anda dipastikan sebagai anak indigo.
Tips menghadapi anak indigo, saya copas juga :
Wendy Chapman, memberikan 10 tips untuk mendidik anak-anak indigo, sebagai berikut:
1. Perlakukan mereka dengan penuh penghargaan. Jika anda tidak menunjukkan penghargaan kepada mereka, mereka juga akan demikian, walaupun anda mempunyai otoritas atau kekuasaan.
2. Dengarkan pendapat mereka. Mereka perlu tahu bahwa anda peduli dan mengenali sistem nilai mereka.
3. Kembangkan kemampuan mereka. Beri mereka pilihan, seperti misalnya tipe produk yang akan dipelajari, apa perintah untuk pekerjaan yang harus dilakukan, pilihan antara dua kegiatan. Memiliki suara yang didengar membuat rasa yang berbeda atas penghargaan diri, biasanya akan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam pilihan yang sudah mereka buat dan konsekuensinya akan memperbaiki sikap mereka terhadap anda dan terhadap pendidikan.
4. Bangunlah sikap koperatif dan hindari memberi perintah. Anak indigo tidak akan peduli terhadap hal-hal yang dimaksudkan untuk mengontrol mereka. Merka akan peduli terhadap perlakuan yang bersifat adil dan baik.
5. Bantu mereka melakukan hal yang berbeda. Jika mereka frustasi, misalnya pekerjaan sekolah, sehingga mereka merasa sendiri di dunia, bantulah mendorong mereka untuk berbuat sesuatu yang positif untuk merubahnya. Seperti menulis surat, karya tulis, puisi, membuat poster, T shirt, mengorganisasi kelompok diskusi.
6. Bantu mereka membangun bakat dan kemampuannya. Dorong mereka untuk kreatif dan berani mengekspresikan kepribadian merka yang unik.
7. Bersikap toleran terhadap emosinya yang ekstrim. Bantu mereka membuat keseimbangan menggunakan aromaterapi, ijinkan mereka minum air putih di kelas, bersikap tenang, atau latihan visualisasi.
8. Dorong mereka untuk menjadi sumber kedamaian bagi orang lain. Indigo dilahirkan untuk menjadi sumber kedamaian. Dorong mereka untuk melatihnya. Hal ini akan membangun komunikasi dan welas asih. Jadilah pembimbingnya dalam hal ini.
9. Jelaskan MENGAPA untuk semua hal. Mengapa ada aturan, mengapa mereka perlu untuk mengerjakan pekerjaan rumah/sekolah. Mengapa dunia seperti ini? Jika anda tidak mempunyai jawabannya, pahami rasa frustasi mereka dan tunjukkan sikap empati.
10. Kurangi obat-obatan untuk ADD. Indigo bukan ADD, tapi indigo secara alamiah memberikan perhatian pada sesuatu secara selektif. Jika mereka dapat fokus pada sesuatu yang mereka pilih untuk jangka waktu yang lama,kemungkinan anak ini indigo, bukan ADD. Walaupun nampaknya ada masalah pada perhatian, carilah alternatif terapi, bukan dengan Ritalin, jangan menekan kreatifitas alamiah dan kepemimpinan indigo, tetapi bantulah untuk mengorganisir.
Indigo memang instilah untuk anak yang agak ‘berbeda’, tapi bukan ‘tidak normal’. Dengan mengetahui dan mendeteksi indigo sejak dini, diikuti dengan penanganan yang tepat, maka anak indigo akan tumbuh kembang seperti anak-anak lainnya.
Do You Know?
Constructing Your Child's Healthy Sense of Self Esteem
Your child's self esteem is their mental foundation. A self-assured child is confident, secure, happy, well-adjusted and successful. They can solve problems that come their way, and it thrives under a loving parent's nurturing care.
What are some good ways to built self esteem in your child?
Most importantly, accept your child for who they are, and help them do the same. Teach your child that nobody is perfect, and that everyone makes mistakes. Show them how to learn and grow from their mistakes, and let them know that you also make mistakes. Children with high self esteem are able to take lessons from mistakes and apply them down the road. A child with low self esteem become frustrated and resort to self-depreciating behavior, such as calling themselves 'stupid' and vowing to 'never try that again.
Help your child discover their abilities and talents, and encourage outlets for them to build on and improve them. Praise a child not only for improvements in abilities and skills, but also for the traits they naturally possess.
Encourage your child to make positive choices. Open an honest dialog with your child and discuss the possibilities with them. Children who learn skills for making positive choices when they are younger are well-prepared for the tougher choices they have to make when they are older.
Ensure that you spend lots of quality time with your child, at least once a week. Whether you are shooting baskets or going out to grab a hamburger, take time to talk and keep in touch. If you find it difficult to squeeze in quality time during a hectic week, take the time to talk about things during the drive to school or while they are helping you put the groceries away.Indigo adalah istilah baru yang belakangan ini mulai dikenal masyarakat. Saya sendiri ingin tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan anak indigo. Ternyata indigo adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak. Secara harfiah, indigo adalah nama warna antara biru dan ungu, yang kerap pula disebut nila.Labels: child parenting skills, indigo, indigo child, Psikologi
Seorang anak adalah sebuah pribadi yang menarik dan unik. Tapi dibalik keunikannya, ada tahapan perkembangan yang standar pada seorang anak. Yang akan terjadi pada hampir semua anak, dimanapun dan kapanpun. Alangkah baiknya kalau orangtua paham betul tahapan-tahapan tersebut untuk bisa lebih mengerti kondisi anaknya dan tahu apa yang harus dilakukan. Jadi, apa saja tahapan yang biasa dilalui oleh anak 1 tahun ?[...]
Seorang anak adalah sebuah pribadi yang menarik dan unik. Tapi dibalik keunikannya, ada tahapan perkembangan yang standar pada seorang anak. Yang akan terjadi pada hampir semua anak, dimanapun dan kapanpun. Alangkah baiknya kalau orangtua paham betul tahapan-tahapan tersebut untuk bisa lebih mengerti kondisi anaknya dan tahu apa yang harus dilakukan.
Artikel ini adalah terjemahan dari buku 'Your Child from One to Ten', karangan Peter Bowler dan Pam Linke.
Tahapan perkembangan anak pada usia 1 tahun
Emosi
• Sangat tergantung pada orang dewasa.
• Kadang takut pada orang asing.
• Mulai ingin mengontrol dirinya sendiri — mengatakan ‘tidak’
• Kadang cemas saat tidur, dan terbangun pada malam hari.
Bahasa
• Mengenali namanya sendiri.
• Merespon pertanyaan yang sederhana.
• Bisa memakai sedikit kata-kata, mengerti lebih banyak lagi.
• Memakai sedikit frase dan menggunakan kalimat yang pendek.
• Mengoceh
Tingkah Laku
• Suka meminkan mimik dan mengulang-ngulangnya.
• Suka berkeliling untuk mengeksplorasi.
• Selalu berusaha memegang, mengangkat, mengosongkan dan menjatuhkan benda.
• Makan sendiri dengan sendok, menggunakan gelas, tapi masih belepotan.
• Peduli pada basah (karena ompol), atau kain alas ompol yang kotor.
• Beberapa dapat tidur sepanjang malam.
• Terbangun saat basah (mengompol).
• Nafsu makan masih bagus, tapi mungkin menolak makanan tertentu.
• Mencoba membantu memakai dan melepaskan pakaian.
• Sangat aktif dan senang bergerak.
• Meningkatnya kepedulian, ingin tahu tentang sesuatu, lingkungan sekitar, tetapi sedikit mengerti tentang hal tersebut.
• Menyukai mainan.
Gerakan
• Berdiri, pertama-tama dengan pegangan pada sesuatu.
• Berjalan, pertama-tama dengan berpegangan untuk keseimbangan.
• Terkadang berlari.
• Suka berjalan dan didorong di kereta bayi.
• Duduk sendiri di kursi.
• Merangkak naik dan turun dari kursi.
• Melempar dengan tangan, menendang bola atau melempar-lemparnya.
Permainan yang bisa diberikan :
Boneka, balok besar, bola, kotak berbentuk keranjang, buku bergambar, pasir dan air, rintangan sederhana untuk naik dan dilewati, tempat untuk naik dan merosot, kendaraan mainan, mainan untuk menyimpan sesuatu seperti kereta barang, alat musik mainan seperti drum dan tamborin, telepon-teleponan, lagu sederhana.
(Mainan-mainan tersebut sebaiknya terdiri dari bagian/kepingan yang cukup besar, tidak bisa dipatahkan oleh anak, atau dirusakan dan tertelan oleh anak).
Do You Know?
Constructing Your Child's Healthy Sense of Self Esteem
Your child's self esteem is their mental foundation. A self-assured child is confident, secure, happy, well-adjusted and successful. They can solve problems that come their way, and it thrives under a loving parent's nurturing care.
What are some good ways to built self esteem in your child?
Most importantly, accept your child for who they are, and help them do the same. Teach your child that nobody is perfect, and that everyone makes mistakes. Show them how to learn and grow from their mistakes, and let them know that you also make mistakes. Children with high self esteem are able to take lessons from mistakes and apply them down the road. A child with low self esteem become frustrated and resort to self-depreciating behavior, such as calling themselves 'stupid' and vowing to 'never try that again.
Help your child discover their abilities and talents, and encourage outlets for them to build on and improve them. Praise a child not only for improvements in abilities and skills, but also for the traits they naturally possess.
Encourage your child to make positive choices. Open an honest dialog with your child and discuss the possibilities with them. Children who learn skills for making positive choices when they are younger are well-prepared for the tougher choices they have to make when they are older.
Ensure that you spend lots of quality time with your child, at least once a week. Whether you are shooting baskets or going out to grab a hamburger, take time to talk and keep in touch. If you find it difficult to squeeze in quality time during a hectic week, take the time to talk about things during the drive to school or while they are helping you put the groceries away.Labels: Psikologi
Orangtua sibuk, anak bersama pengasuh, ditemani oleh tontonan dari televisi atau DVD. Fenomena seperti ini sangat lazim terjadi di perkotaan. Saya termasuk yang mengalami. Walaupun saya sekarang full mother, tapi kesibukan di rumah kadang membuat saya menitipkan anak pada televisi. Walaupun sebisa mungkin acara yang boleh ditonton saya filter dulu. Tapi bagaimana sih sebenarnya dampak televisi, DVD atau computer bagi seorang balita ? Saya mengutip beberapa pendapat para ahli dari beberapa artikel.[...]
Orangtua sibuk, anak bersama pengasuh, ditemani oleh tontonan dari televisi atau DVD. Fenomena seperti ini sangat lazim terjadi di perkotaan. Saya termasuk yang mengalami. Walaupun saya sekarang full mother, tapi kesibukan di rumah kadang membuat saya menitipkan anak pada televisi. Walaupun sebisa mungkin acara yang boleh ditonton saya filter dulu. Tapi bagaimana sih sebenarnya dampak televisi, DVD atau computer bagi seorang balita ? Saya mengutip beberapa pendapat para ahli dari beberapa artikel.Menurut Dr. Endang Darmoutomo, MS, SpGK.
Dalam seminar yang diselenggarakan 'Dancow Parenting Center' beberapa waktu lalu mengungkapkan kecenderungan menonton tv terlalu lama akan meningkatkan angka obesitas pada anak-anak. Satu jam nonton tv misalnya, akan meningkatkan obesitas sebesar 2%. Pasalnya selama menonton TV, lanjut Dr. Endang, anak lebih banyak ngemil dan tak melakukan aktivitas olah tubuh.
Hal yang sama berlaku bagi anak yang lebih suka bermain games atau komputer dibanding anak yang bermain-main di luar bersama teman-teman. "Saat nonton tv atau main game, terjadi ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang digunakan," ujar Dr. Endang. Saat anak nonton tv, kalori yang dibakar hanya 36 kkal/jam, padahal apa yang dia konsumsi jauh melebihi kalori yang digunakan. "Anak perlu aktif untuk bertumbuh," tandas Dr. Endang.
Obesitas tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan karena mengundang berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, penyakit jantung koroner hingga stroke saat anak dewasa, namun juga dapat mengganggu psikologis anak. Ingat, obesitas akan terbawa saat anak dewasa jika tak ditangani secara baik. Mungkin ia akan merasa malu, rendah diri, bahkan merasa tak berharga karena memiliki tubuh 'berbeda' dibanding teman-teman di lingkungannya.
Menurut Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K)
Mengutip hasil penelitian Hancox RJ. Association of Television Viewing During Childhood with Poor Educational Achievement.
Arch Pediatr Adolesc Med 2005, bahwa menonton tv saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.
Sedangkan penelitian lain mengenai pengaruh tv terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton televisi setiap jamnya ternyata hasil uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memori. Yang positif hanyalah kemampuan mengenal dengan membaca naik. Dari situ disimpulkan bahwa menonton tv pada anak di bawah 3 tahun hanya membawa lebih banyak dampak buruk dibanding efek baiknya.
Anak yang sering menonton tv juga mengalami masalah pada pola tidurnya, seperti terlambat tidur, kurang tidur bahkan tak bisa tidur, cemas tanpa sebab, terbangun malam dan mengantuk pada siang hari.
Dr Hardiono menjelaskan, otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi dan mengurutkan perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi atau atensi dan menentukan baik atau tidak. "Pusat di otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja," papar Dr. Hardiono. Televisi dan game video yang mindless (tak membutuhkan otak untuk berpikir) akan menghambat perkembangan bagian otak ini.
Lebih lanjut Dr. Hardiono memaparkan, hanya dari menonton televisi saja otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu tv bersifat satu arah, sehingga anak kehilangan kesempatan mengekplorasi dunia tiga dimensi serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik.
Sumber : www.hanyawanita.com
Dan yang berikut ini saya ambil dari harian Kompas...LONDON, SENIN - Sudah menjadi fenomena umum bahwa kini banyak orang tua yang membiarkan anak-anak mereka - bahkan sejak usia pra sekolah - asyik menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau bermain komputer. Bagi orang tua, selama anak-anak merasa senang, kebiasaan ini tidak pernah di anggap sebagai ancaman.
Padahal membiasakan anak-anak menonton televisi atau bermain komputer, ternyata memiliki dampak negatif khususnya bagi perkembangan otak dan kejiwaan anak.
Peringatan akan ancaman serta dampak buruk televisi dan media elektronik lainnya terhadap perkembangan anak diungkapkan oleh seorang ahli dari Inggris belum lama ini. Salah satu pesan pentingnya adalah anak-anak pra sekolah seharusnya tidak dibiarkan menonton televisi atau bermain dengan komputer, supaya otaknya berkembang dengan sempurna.
Seorang ahli perkembangan anak, Dr Aric Sigman, mengatakan bahwa telah banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan duduk di depan layar komputer atau televisi berjam-jam dapat menimbulkan pengaruh buruk pada anak-anak khususnya untuk jangka panjang.
Seperti diberitakan Sky, Senin (18/2), ia telah mendesak untuk diberlakukannya semacam "buffer zone" yang membatasi anak-anak pra-sekolah untuk mengakses seluruh jenis media elektronik.
Sumber : KOMPAS Senin, 18 Februari 2008
Do You Know?
Constructing Your Child's Healthy Sense of Self Esteem
Your child's self esteem is their mental foundation. A self-assured child is confident, secure, happy, well-adjusted and successful. They can solve problems that come their way, and it thrives under a loving parent's nurturing care.
What are some good ways to built self esteem in your child?
Most importantly, accept your child for who they are, and help them do the same. Teach your child that nobody is perfect, and that everyone makes mistakes. Show them how to learn and grow from their mistakes, and let them know that you also make mistakes. Children with high self esteem are able to take lessons from mistakes and apply them down the road. A child with low self esteem become frustrated and resort to self-depreciating behavior, such as calling themselves 'stupid' and vowing to 'never try that again.
Help your child discover their abilities and talents, and encourage outlets for them to build on and improve them. Praise a child not only for improvements in abilities and skills, but also for the traits they naturally possess.
Encourage your child to make positive choices. Open an honest dialog with your child and discuss the possibilities with them. Children who learn skills for making positive choices when they are younger are well-prepared for the tougher choices they have to make when they are older.
Ensure that you spend lots of quality time with your child, at least once a week. Whether you are shooting baskets or going out to grab a hamburger, take time to talk and keep in touch. If you find it difficult to squeeze in quality time during a hectic week, take the time to talk about things during the drive to school or while they are helping you put the groceries away.Labels: Psikologi
Ketika anak memasuki usia 2 sampai 4 tahun, kita melihat bahwa mereka cenderung sudah mulai menginginkan sesuatu dengan kuat. Sudah tahu banyak hal dan kadang ingin melakukannya terus menerus. Misalnya jajan makanan tertentu, membeli mainan ini dan itu, dan sebagainya. Dan jika tidak dipenuhi sebagian dari balita ini akan mengamuk yaitu menangis, menjerit-jerit, tidak mau beranjak dari tempat tertentu, melempar barang, dsb. Mengamuk, atau nama lainnya temper tantrum wajar terjadi pada balita, bagaimana kita mengatasinya ?[...]
Ketika anak memasuki usia 2 sampai 4 tahun, kita melihat bahwa mereka cenderung sudah mulai menginginkan sesuatu dengan kuat. Sudah tahu banyak hal dan kadang ingin melakukannya terus menerus. Misalnya jajan makanan tertentu, membeli mainan ini dan itu, dan sebagainya. Dan jika tidak dipenuhi sebagian dari balita ini akan mengamuk yaitu menangis, menjerit-jerit, tidak mau beranjak dari tempat tertentu, melempar barang, dsb. Mengamuk, atau nama lainnya temper tantrum wajar terjadi pada balita, bagaimana kita mengatasinya ?
Penyebab temper tantrum (mengamuk)
Yang pertama harus orangtua perhatikan adalah penyebab anak mengamuk. Kalau perlu buat catatan apa saja yang biasanya membuat si anak mengamuk, misalnya :
• Tidak mendapatkan apa yang diinginkan (misalnya perhatian guru/orang tua, permen, mainan, dsb)
• Tidak mampu melakukan sendiri (misalnya dalam berpakaian, membawa mainannya sekaligus, menyeberangi jalan tanpa berpegangan pada orang tua, dsb)
• Menginginkan orang tua/guru melakukan sesuatu yang orang tua/guru tidak bisa atau tidak ingin lakukan (misalnya menemani anak tidur, mengambil makanan kesukaan yang tidak diperbolehkan, dsb)
• Tidak mengetahui apa yang diinginkannya (misalnya apakah sebaiknya ia makan di meja makan atau duduk di sofa atau tidak makan)
• Tidak mampu menjelaskan apa yang diinginkannya (misalnya ingin bermain ayunan lebih tinggi, tapi alat ayunan tidak memungkinkan)
• Tidak mampu mengendalikan segala sesuatu (misalnya ia ingin ibunya tidak pergi ke kantor, tapi ibunya tetap pergi, ia ingin memakai piring warna biru, tetapi dibelikan warna merah,
• Dsb.
Penanganan temper tantrum (mengamuk)
• Orangtua bersikap tenang, positif dan dewasa.
• Biarkan dulu anak yang mengamuk sampai dia sedikit tenang.
• Berbicara dengan lembut tapi tegas.
• Alihkan perhatiannya pada hal-hal yang lain.
• Setelah reda, peluk anak dan tunjukkan bahwa kita tetap mencintainya.
• Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti bahwa keinginannya tidak dipenuhi karena sebab-sebab tertentu.
• Tidak boleh menggunakan kekerasan seperti memukul, mencubit,dsb.
Do You Know?
Tactics for Tackling a Toddler's Temper Tantrum
Even the best behaved toddler has an occasional temper tantrum. A tantrum can range from whining and crying to screaming, kicking, hitting, and breath holding. They're equally common in boys and girls and usually occur from age 1 to age 3. Some children may experience regular tantrums, whereas for other children, tantrums may be rare. Some kids are more prone to throwing a temper tantrum than others.
Toddlers are trying to master the world and when they aren't able to accomplish a task, they often use one of the only tools at their disposal for venting frustration - a tantrum. There are several basic causes of tantrums that are familiar to parents everywhere: The child is seeking attention or is tired, hungry, or uncomfortable. In addition, tantrums are often the result of children's frustration with the world. Frustration is an unavoidable part of kids' lives as they learn how people, objects, and their own bodies work.
Tantrums are common during the second year of life, a time when children are acquiring language. Toddlers generally understand more than they can express. As language skills improve, tantrums tend to decrease.
Keep off-limits objects out of sight and out of reach, which will make struggles less likely to develop over them. Distract your child. Take advantage of your little one's short attention span by offering a replacement for the coveted object or beginning a new activity to replace the frustrating or forbidden one. And choose your battles: consider the request carefully when your child wants something. Is it outrageous? Maybe it isn't. Accommodate when possible to avoid an outburst.
Make sure your child isn't acting up simply because he or she isn't getting enough attention. To a child, negative attention (a parent's response to a tantrum) is better than no attention at all. Try to establish a habit of catching your child being good ("time in"), which means rewarding your little one with attention and praise for positive behavior. This will teach them that acting appropriately makes mommy and daddy happy and proud, and they'll be anxious to do it again and again.Labels: Psikologi
Permasalahan yang sering sekali dihadapi pada ibu-ibu yang memiliki balita adalah kesulitan memberi makan, terutama makanan utama seperti nasi, roti, dsb. Ada anak yang sering ngemut makanannya sampai berjam-jam, ada yang melepehkan makanannya, bahkan ada anak yang sama sekali tidak mau menyentuh nasi. Ada apa sebenarnya ? Dan bagaimana menghadapinya ?[...]
Permasalahan yang sering sekali dihadapi pada ibu-ibu yang memiliki balita adalah kesulitan memberi makan, terutama makanan utama seperti nasi, roti, dsb. Ada anak yang sering ngemut makanannya sampai berjam-jam, ada yang melepehkan makanannya, bahkan ada anak yang sama sekali tidak mau menyentuh nasi.
Penyebab balita susah makan diantaranya :
- Pengalaman anak yang kurang menyenangkan atau trauma saat awal-awal diberi makanan. Hal ini menyebabkan anak malas untuk makan walaupun perutnya lapar. Ada juga anak yang trauma dengan buah-buahan, akibat orangtuanya pernah memaksakan memberikan buah.
- Terlalu banyak minum susu. Masalah ini pernah saya alami sendiri. Jika anak saya merasa lapar maka yang dia minta adalah susu. Setelah minum susu banyak, sama sekali dia tidak mau minum. Dulu anak saya minum susu dengan dot, tapi saat sudah disapih dari dot dan pindah ke gelas, akhirnya dia minum susunya tidak terlalu banyak dan sering lagi. Dan mulai mau makan dengan porsi yang lumayan.
- Terlalu banyak mengemil atau jajan.
- Kurang variasi makanan, sehingga anak menjadi bosan.
- Masalah psikologis. Anak usia >2 tahun sedang mengalami masa membangkang dan semua serba keinginanku. Hal ini perlu dihadapi dengan kesabaran
- Anak sedang sakit.
- Adanya factor fisik misalnya gangguan di sistem saluran pencernaan.
Tips mengatasi balita yang susah makan, diantaranya :
- Berikan pengalaman makan yang menyenangkan, sejak pemberian makan yang pertama (setelah selesai asi eksklusif). Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. ''Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah.'', tutur dr. Soeroyo Machfudz SpA(K) MPH dari Yogyakarta.
- Laparkan dulu anak. Anak jangan dulu diberi cemilan atau susu, agar mau diberikan makanan berat.
- Berikan reward apabila anak mau makan, misalnya dengan memberikan pelukan atau ciuman.
- Atau berikan hukuman yang edukatif seperti jika anaknya tidak mau makan, orangtua tidak mau nemenin main, dsb.
- Variasikan menu makanan agar anak tidak bosan.
- Berikan situasi dimana anak dalam kondisi senang, misalnya diajak jalan-jalan sambil melihat pemandangan.
- Ekstra sabar. Ini selalu jadi kunci bagi orangtua atau penagsuh dalam memberikan makanan pada balita.
Do You Know?
Constructing Your Child's Healthy Sense of Self Esteem
Your child's self esteem is their mental foundation. A self-assured child is confident, secure, happy, well-adjusted and successful. They can solve problems that come their way, and it thrives under a loving parent's nurturing care.
What are some good ways to built self esteem in your child?
Most importantly, accept your child for who they are, and help them do the same. Teach your child that nobody is perfect, and that everyone makes mistakes. Show them how to learn and grow from their mistakes, and let them know that you also make mistakes. Children with high self esteem are able to take lessons from mistakes and apply them down the road. A child with low self esteem become frustrated and resort to self-depreciating behavior, such as calling themselves 'stupid' and vowing to 'never try that again.
Help your child discover their abilities and talents, and encourage outlets for them to build on and improve them. Praise a child not only for improvements in abilities and skills, but also for the traits they naturally possess.
Encourage your child to make positive choices. Open an honest dialog with your child and discuss the possibilities with them. Children who learn skills for making positive choices when they are younger are well-prepared for the tougher choices they have to make when they are older.
Ensure that you spend lots of quality time with your child, at least once a week. Whether you are shooting baskets or going out to grab a hamburger, take time to talk and keep in touch. If you find it difficult to squeeze in quality time during a hectic week, take the time to talk about things during the drive to school or while they are helping you put the groceries away.Labels: Psikologi
Mengompol, dalam istilah medisnya enuresis adalah mengeluarkan air seni secara tidak sadar pada usia dimana seharusnya sudah dapat mengendalikan keinginan buang air kecil, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak dan remaja. Apa penyebab dan bagaimana solusinya ?[...]
Mengompol, dalam istilah medisnya enuresis adalah mengeluarkan air seni secara tidak sadar pada usia dimana seharusnya sudah dapat mengendalikan keinginan buang air kecil, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak dan remaja.
Penyebab balita masih mengompol diantaranya :
1. Faktor keturunan.
Sekitar 85 persen anak yang mengompol biasanya punya riwayat keluarga yang enuresis juga.
2. Permasalahan kesehatan, seperti infeksi saluran kemih atau diabetes.
3. Permasalahan kejiwaan anak, seperti akibat perceraian orangtua, dsb.
4. Penggunaan popok sekali pakai yang terus menerus.
Semakin meningkatnya kesibukan orangtua dan naiknya pendapatan orangtua, maka solusi menggunakan popok sekali pakai menjadi hal yang biasa. Padahal ada sisi negatifnya yaitu kemungkinan anak semakin tergantung pada popoknya. Istilah lainnya keenakan.
Dan banyak lagi penyebab lainnya, yang kebanyakan sulit diketahui polanya, dan harus dikonsultasikan dengan dokter anak.
Bagaimana mengatasi permasalahan mengompol ini ? Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan, diantaranya :
1. Membangunkan anak pada malam hari
Untuk melaksanakan Teknik ini, ada baiknya orangtua mengenal pola mengompol anaknya. Setiap jam berapa dia mengompol, lalu dicatat. Setelah tahu jadwal mengompolnya, kemudian kita bangun sekitar satu jam sebelum jadwal dia mengompol. Bangunkan anak dan bawa ke kamar mandi, lalu usahakan agar dia bisa buang air kecil. Untuk awal-awal kemungkinan anak akan nangis atau rewel, hal itu wajar dan usahakan orang tua tetap tenang. Jika sudah mulai berhasil, selanjutnya bangunkan anak setengah jam sebelum jadwal dia mengompol. Setelah itu ajarkan anak agar mau BAK sebelum dia tidur.
Cara diatas bisa pula diterapkan untuk mengatasi masalah mengompol anak pada siang hari. Ajak anak setiap beberapa jam sekali ke kamar mandi, dan biarkan dia BAK. Lama-lama anak akan tahu apa yang harus dilakukan kalau ingin buang air kecil. Cara ini alhamdulillah berhasil diterapkan pada anak saya, dan dia berhenti mengompol pada usia 1,5 tahun.
2. Tanamkan dalam memori si kecil bahwa seharusnya pipis itu di WC, bukan di celana.
Misalnya dengan memberikan dongeng-dongeng (yang bisa kita karang sendiri), atau reward jika anak tidak mengompol lagi, atau jika sudah besar berikan tanggung jawab agar anak membantu membersihkan bekas ompolnya. Hal-hal tersebut untuk menanamkan dalam memori seorang anak bagaimana BAK yang seharusnya.
3. Menggunakan obat-obatan.
Jika menyangkut obat-obatan untuk anak, sebaiknya betul-betul dikonsultasikan dulu dengan ahlinya.
4. Kesabaran.
Penggunaan teknik-teknik diatas akan berbeda hasilnya pada setiap anak. Yang harus selalu diingat orangtua adalah sabar. Dari hasil penelitian kebanyakan teknik tersebu akan berhasil dalam 2 minggu, tapi bisa juga sebulan atau lebih.
Do You Know?
Constructing Your Child's Healthy Sense of Self Esteem
Your child's self esteem is their mental foundation. A self-assured child is confident, secure, happy, well-adjusted and successful. They can solve problems that come their way, and it thrives under a loving parent's nurturing care.
What are some good ways to built self esteem in your child?
Most importantly, accept your child for who they are, and help them do the same. Teach your child that nobody is perfect, and that everyone makes mistakes. Show them how to learn and grow from their mistakes, and let them know that you also make mistakes. Children with high self esteem are able to take lessons from mistakes and apply them down the road. A child with low self esteem become frustrated and resort to self-depreciating behavior, such as calling themselves 'stupid' and vowing to 'never try that again.
Help your child discover their abilities and talents, and encourage outlets for them to build on and improve them. Praise a child not only for improvements in abilities and skills, but also for the traits they naturally possess.
Encourage your child to make positive choices. Open an honest dialog with your child and discuss the possibilities with them. Children who learn skills for making positive choices when they are younger are well-prepared for the tougher choices they have to make when they are older.
Ensure that you spend lots of quality time with your child, at least once a week. Whether you are shooting baskets or going out to grab a hamburger, take time to talk and keep in touch. If you find it difficult to squeeze in quality time during a hectic week, take the time to talk about things during the drive to school or while they are helping you put the groceries away.Labels: Psikologi